
Bondowoso, Media Al-Ishlah – Minggu, (17/08/25) Langit pagi kemerdekaan memancarkan pesona yang berbeda dari hari-hari biasanya. Dibawah kakinya, barisan murid hingga mahasiswa berjajar rapi dalam balutan seragam berwarna-warni, menanti pengibaran Sang Saka Merah Putih. Selain itu, pengurus pondok hingga kepala dan guru KBIT-STIT turut hadir memeriahkan Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia Ke-80 di Lapangan Pondok Pesantren Al-Ishlah.
Baca Juga: Pengajian Bulanan Tafsir Jalalain Tambhana Ate Ke-141
Tepat pukul 07.45 WIB, Pasukan Pengibar Bendera masuk disudut lapangan. Semua berdiri tegak, memberikan hormat. Alunan lagu “Indonesia Raya” menggema, menggetarkan hati setiap dada pendengarnya. Sang Saka Merah Putih perlahan naik, seolah menari di antara hembusan angin yang menjadi simbol kebebasan dan perjuangan yang tak pernah padam.

“Telah banyak darah yang ditumpahkan, harta yang korbankan, nyawa yang dikorban untuk kemerdekaan Indonesia. Karena itulah, marilah kita isi kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya dengan mensyukuri kemerdekaan ini, yaitu dengan banyak beribadah kepada Allah SWT, “ ucap Abi Thoha Yusuf Zakariya, Lc., ketika memberikan amanat.
Menurutnya, kemerdekaan tidak bisa diartikan dengan bebas melakukan apa saja, seperti bebas berfikir apapun, bebas bergerak seenaknya hingga bebas melakukan sesuatu yang tidak berdasar pada nilai-nilai syari’at, agama dan pancasila. Oleh karena itu, dalam melakukan sesuatu harus dalam ruang lingkup rangkaian norma-norma agama.

“Coba bayangkan, di negara Palestina sana tidak pernah merdeka, mereka terus berjuang sampai saat ini,” ucapnya sambil menjelaskan negara-negara yang sedang perang berkecamuk dan mengharapkan kemerdekaan dan bebas dari penjajahan, “Karena itulah, bersatulah bangsa Indonesia, dan insyaallah kita akan mencapai kepada kemerdekaan,” tutupnya.
Baca Juga: Mengobarkan Semangat Juang di SD Plus Al-Ishlah Bersama Pak Jaka dan Bontar
Selanjutnya, penyanyian lagu Hymne Oh Pondokku dan Hymne Al-Ishlah menambah khidmatnya acara. Sehingga suasana haru, kebanggaan, serta kecintaan mendalam kepada pondok membuat hadirin larut dalam kebersamaan dan semangat perjuangan bangsa.


Usai upacara, kemeriahan berlanjut dengan penyerahan hadiah bagi para juara Lomba Pidato Tiga Bahasa dan Festival Al-Qur’an. Suasana semakin semarak saat pemenang orasi, Khoirul Azam, santri kelas 1 Tahfidz Kulliyatul Muballighin Al-Islamiyyah tampil memukau dengan orasinya yang penuh semangat dan menghibur.


Gelak tawa peserta mengiringi penampilan Pasukan Pengibar Bendera yang penuh akan gerak jenaka dan kompak, membuat suasana lapangan seketika mencair dan semakin hangat.
Setelah itu, unjuk kebolehan dilanjut oleh siswa/i SD Plus Al-Ishlah. Dengan menampilkan sang pemenang juara gerak jalan yang berhasil meraih juara 1 tingkat kecamatan, penampilan semakin riuh ketika tarian tradisional Tanduk Majeng disuguhkan.
Baca Juga: Safari Kisah Pahlawan Berkunjung ke TKIT Al-Ishlah Bondowoso
Acara semakin bergemuruh dan bergairah ketika santri Kulliyatul Muballighin Al-Islamiyyah juga turut menampilkan unjuk kebolehan dan ketangkasannya dalam beberapa penampilan. Deretan penampilan mereka menjadikan suasana lapangan semakin hidup dan meriah. Yakni dimulai dengan pembacaan puisi yang sarat makna, lantunan nasyid yang menggetarkan hati, hingga atraksi Tapak Suci dan Acrobatic yang membuat penonton takjub dan terkesima.
Rangkaian acara ditutup dengan penampilan Prestigious Generation, yang pada hal ini adalah asatidz pengabdian pertama Pondok Pesantren Al-Ishlah.




Reporter: Luna Farah Nazilla
Fotografer: M. Fadel Galung, Adly Fahreza
Editor: Muhammad Rasyid Ridho




