
Bondowoso, Media Al-Ishlah – SMP Plus Al-Ishlah Bondowoso, mengadakan Penguatan Implementasi Digitalisasi Pembelajaran Menggunakan AI (Artificial Intelligence) pada Kamis, 18 September 2026.
Dengan mengundang Ibu Yulia Firdaus, S.Pd., sebagai pemateri, kegiatan ini mengupas berbagai aplikasi AI yang dapat membantu pembelajaran di sekolah, seperti Claude.ai, ChatGPT, Google Gemini, Perplexity, Microsoft Copilot dan berbagai aplikasi AI lainnya.
Di sela penjelasannya, Ibu Yulia menyarankan Claude.ai sebagai aplikasi yang paling tepat untuk digunakan oleh para guru. Selain memiliki tampilan yang lebih rapi untuk pencarian berbentuk narasi, Claude.ai juga memiliki tampilan yang rapi ketika mengubah teks dalam bentuk file.

Kegiatan ini berlanjut pada hari Sabtu, 19 September 2026 dengan mengangkat tema Penguatan Implementasi Digitalisasi dengan Substansi Peningkatan Literasi-Numerasi, yang menghadirkan Bapak Mohammad Hairul, S.Pd., M.Pd., sebagai narasumber.
Dalam pemaparannya, Bapak Hairul menerangkan bahwa literasi merupakan pemahaman, atau seberapa dalam seseorang memahami sesuatu. Pemateri pun mengutip perkataan Anies Baswedan mengenai literasi, “Dulu Pak Anies bilang, literasi itu melalui tiga tahap. Pembiasaan, pengembangan, lalu masuk ke pembelajaran. Walaupun itu sudah lama sekali, jangan harap literasi dalam pembelajaran berhasil kalau belum ada pembiasaan literasinya.”
Baca Juga: Tashih Al-Qur’an, Menuju Bacaan Al-Qur’an yang Baik dan Benar
Penulis buku Novel Bersampul Batik tersebut pun menyarankan agar buku paket yang dibeli dari Dana BOSP (Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan) tak hanya sekadar diberikan kepada murid untuk dibawa pulang dan dibaca di rumah. Namun juga meninjau bacaan murid sebelum mulai menjelaskan materi, dengan membaca halaman tertentu secara bersama maupun individual.
Membaca halaman buku paket di kelas tidak hanya sebatas memastikan murid membaca buku yang diberikan. Tetapi juga membuat guru mengetahui jika terdapat murid yang tidak lancar membaca dan menciptakan lingkungan pembiasaan anak dalam berliterasi.
Selain literasi, peraih predikat Guru Berprestasi Nasional ini juga menjelaskan mengenai Numerasi yang menggunakan kemampuan bernalar dalam menafsirkan informasi kuantitatif.
Baca Juga: Dari Mimbar Ujian Menuju Mimbar Dakwah: Ujian Santriwati Niha’ie
Lebih lanjut, Bapak Hairul membocorkan salah satu cara mengimplementasikan numerasi ke dalam pelajaran Bahasa Indonesia, yakni ketika terdapat teks prosedur. Sebagai contoh prosedur cara membuat donat. Untuk membuat donat, harus memiliki takaran tepung dengan berat satu kilo, “Guru bahasa jangan sampai membiarkan anak menulis tepung satu kilo. Kilo apanya? Kilogram. Lalu misalkan kita buat resep untuk 10 donat, tepungnya berapa? Gulanya berapa? Menteganya berapa? Disitulah anak-anak sambil belajar numerasi, mengolah angka dalam pelajaran Bahasa Indonesia.”

Kegiatan ini pun berakhir dengan sesi diskusi, di mana para pengajar dapat menanyakan berbagai solusi atas masalah yang dihadapi di kelas. Harapannya, seluruh rangkaian kegiatan ini dapat meningkatkan kompetensi guru dalam memanfaatkan AI sebagai sarana belajar yang lebih efektif, efisien, interaktif dan adaptif yang dapat berdampak langsung pada peningkatan literasi dan numerasi siswa.
Reporter: Dzakiroh Qoyyimah Hubbi
Fotografer: Muhammad Rasyid Ridho
Editor: Qonita Husna Zahida




