Seminar Parenting SD Plus Al-Ishlah: Ustadzah Wida Soroti Krisis Kedewasaan Anak Masa Kini

Ustadzah Wida Almaidah, M.Pd., memaparkan materi dalam Seminar Parenting SD Plus Al-Ishlah (Foto: Aris)

Bondowoso, Media Al-Ishlah – Sabtu,(29/08/2026) “Apakah kita sebagai ibu sudah menunjukkan jejak-jejak menuju surga kepada anak-anak kita atau justru (menunjukkan jejak-jejak) menjauhi surga?” pertanyaan itulah yang diungkapkan oleh Ustadzah Wida Almaidah, M.Pd., dalam Seminar Parenting SD Plus Al-Ishlah saat membahas pepatah “Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu” yang hingga saat ini masih banyak orang salah dalam mengartikannya. Padahal, telapak kaki ibu yang dimaksud dalam pepatah tersebut adalah jejak kebaikan dari apa yang telah diajarkan seorang ibu kepada anaknya.

Baca Juga: Maulid Nabi Muhammad SAW SD Plus Al-Ishlah: Peristiwa Menakjubkan Dalam Sejarah Islam

Mengangkat tema, “Mempersiapkan Anak Memasuki Usia ‘Aqil Baligh” acara Seminar Parenting ini dihadiri oleh seluruh wali murid kelas 1-6 dan dibuka dengan sambutan dari Kepala Sekolah SD Plus Al-Ishlah, Ustadzah Afifah Zakiyah Darojah, S.Pd.I., yang menyampaikan bahwa acara ini diadakan agar setiap orang tua dapat mendidik lebih baik dan membimbing anak-anak menuju surga, “Anak adalah titipan sementara, yang tidak selamanya kita bersama mereka, sehingga bimbing dan didik mereka dengan baik.”

Selain itu, adik kandung dari Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlah tersebut juga menyatakan bahwa metode pendidikan yang diterapkan di Al-Ishlah adalah SALARAS (Sayang, Telaten, Keras) sehingga, para pendidik tidak mendidik anak dengan bentakan atau bahkan cacian, namun dengan kasih sayang.

Ustadzah Afifah Zakiyah Darojah, S.Pd.I., menyampaikan sambutan (Foto: Aris)

Ustadzah Afifah pun mengucapkan terima kasih kepada Ustadzah Wida Almaidah, yang telah bersedia datang jauh dan hadir dari Surabaya menuju Bondowoso di tengah kesibukannya sebagai Direktur PAUD Hidayatullah Surabaya.

Dalam penjelasannya, Ustadzah Wida mengupas habis berbagai permasalahan yang dihadapi oleh orang tua saat ini dalam mendidik anak. Salah satu persoalan tersebut adalah banyaknya anak yang mengalami masa baligh terlebih dahulu dibandingkan dengan masa aqil-nya.

Tak sedikit orang tua yang melalaikan pendidikan anak pada masa usia 7-12 tahun, saat anak mulai memasuki masa balighnya, masa belajar krusial mereka. Anak seharusnya sudah dapat belajar mandiri. Namun kenyataannya, orang tua justru mengambil alih pekerjaan sederhana yang seharusnya mampu dilakukan anak dan membuat anak bergantung terhadap perlakuan yang telah ia terima dari ibunya dalam sehari-hari, seperti menyiapkan buku mata pelajaran, menata barang, dan berbagai kegiatan lainnya.

Baca Juga: Kajian Maulid Nabi di TKIT Al-Ishlah Bondowoso: Kenalkan Makna Maulid dan Penanaman Akhlaq

Selain itu, kebanyakan orang tua masih memperlakukan anaknya yang telah menduduki bangku sekolah dasar seperti anak berumur empat atau lima tahun dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan, seperti “Sudah makan?” atau “Sudah sholat?” yang justru, pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang membuat anak menjadi tidak dewasa, karena orang tua tidak memberikan kepercayaan kepada anak dan membuat anak bergantung kepada pertanyaan pengasuh sebelum melakukan sesuatu.

Saat ini pun, terjadi banyak tragedi remaja yang sedang melanda bangsa. Praktisi Pendidikan Anak sekaligus Neuro Parenting tersebut menekankan bahaya gadget yang menjadi masalah utama dalam pergeseran paradigma remaja aqil dan baligh. Fisiknya matang, namun mental lemah.

Salah satu peserta acara bertanya dalam sesi tanya jawab (Foto: Aris)

Anak usia 7 tahun yang seharusnya sudah mumayyiz (dapat membedakan mana yang baik dan buruk), saat ini justru juga mengalami keterlambatan perkembangan aqil (akal) disebabkan makanan cepat saji yang biasa disajikan dan tontonan tidak mendidik yang seharusnya tidak ditonton.

Baca Juga: Melestarikan Kebudayaan Islam Di Tengah Gempuran Digitalisasi: Medsos Boleh Hits, Tapi Akhlaq Santriwati Tetap Cool dan Syar’i!

Mental lemah juga dapat disebabkan pola pengasuhan orang tua yang terlalu protektif, seperti melarang anak untuk terjatuh. Padahal, seorang anak harus merasakan jatuh untuk mengetahui dan memahami bagaimana cara untuk berhati-hati.

Acara pun berlanjut pada sesi tanya jawab. Diharapkan, seluruh orang tua yang hadir dapat mengambil pelajaran dari apa yang telah disampaikan pemateri dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari ketika mengasuh dan mendidik sang buah hati.

Reporter: Dzakiroh Qoyyimah H.
Fotografer: Aris Effendi
Editor: Rini Aisyah

Tentang Penulis:

Pendaftaran Tahun Pelajaran 2026/2027

Pendaftaran Santri Baru (PSB) KMI Al-Ishlah Putra & Putri Tahun Pelajaran 2026/2027 dibuka pada tanggal 1 Oktober 2025 s.d. 30 Mei 2026

Days
Hours
Minutes
Seconds