
Bondowoso, Media Al-Ishlah – Kali ini, Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso kedatangan tamu istimewa yang akan mengisi seminar pendidikan dengan tema, “Cara Menjadi Pintar, Perusak Kepintaran dan Puncak Kepintaran”. Acara yang diselenggarakan di Gedung Serba Guna (GSG) ini, bertujuan menambah wawasan para peserta terkait kiat-kiat yang memudahkan dalam belajar sehingga dapat meningkatkan semangat para santri dalam menuntut ilmu.
Baca Juga: MPLS SMP Plus Al-Ishlah: Bekali Siswa Baru Kenali Lingkungan Sekolah
Pemateri dengan nama lengkap Prof. Dr.Moh. Fadli, S.H., M.Hum tersebut merupakan salah satu dari tiga bersaudara kandung yang mana ketiga-tiganya merupakan seorang profesor dan rektor di universitas yang berbeda.
Pada penyampaiannya, ia mengingatkan kepada seluruh hadirin agar dalam menuntut ilmu hendaklah selalu berusaha dalam mendapatkan ridho orang tua. Mungkin hal ini terdengar sebagai urusan sepele di telinga sebagian orang. Tetapi dengan bekal ridho kedua orang tua, insyaa Allah seseorang akan dimudahkan dalam segala hal termasuk menuntut ilmu, karena Allah SWT pun telah ridho sebagaimana orang tua telah ridho terhadap apa yang kita perbuat. Dikatakan dalam sebuah hadits,
رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ
Artinya: “Ridho Allah ada pada ridho kedua orang tua dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan kedua orang tua.”
Baca Juga: MPLS Ramah TKIT Al-Ishlah Bondowoso
Ia juga menjelaskan tips cepat dalam belajar agar menjadi pintar, yakni jangan belajar setelah diajarkan. Akan tetapi, tulislah poin-poin penting yang disampaikan guru dan praktikkan setelah belajar, jadikan itu sebagai perbincangan kepada orang-orang di sekitar. Cara tersebut dapat memudahkan seseorang dalam mengingat apa yang telah ia pelajari.
Selanjutnya ia menegaskan kepada seluruh peserta untuk menghindari sifat malas sebagai perusak kepintaran seseorang, sambil mengutip salah satu syair berbahasa arab yang artinya, “Janganlah engkau menemani si pemalas dalam setiap keadaannya. Betapa banyak orang yang saleh (baik) menjadi rusak (jelek) karena kerusakan orang lain.”

Para peserta seminar menyimak penjelasan dari pemateri dengan saksama dan antusias. Selain itu, ia juga menceritakan pengalamannya ketika menghadapi berbagai lika-liku dalam menuntut ilmu hingga menjadi dosen, yang menginspirasi seluruh peserta agar tidak pernah lelah untuk memperdalam ilmu yang dimiliki serta memperkuat khosyah (takut) kepada Allah. Karena korupsi yang merajalela Indonesia, jalan berlubang namun tak ada perbaikan, dan banyak kasus lainnya disebabkan oleh kurang khosyah kepada Allah.
Baca Juga: Pengajian Rutin Bulanan Tafsir Jalalain “Tambhena Ate” Ke-152
Di akhir, ia berpesan bahwa puncak dari semua ilmu yang telah dipelajari dan kepintaran yang dimiliki hanya akan kembali pada satu tujuan, yaitu membawa kebermanfaatan bagi orang lain. Sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadits, yang juga merupakan motto Pondok Pesantren Al-Ishlah:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya).”
“Menjadi profesor itu gampang dan mudah, tapi yang sulit itu menjadi orang alim. Mudah menjadi orang pintar, tapi yang sulit itu menjadi orang baik dan bermanfaat”, pungkas salah satu Guru Besar Universitas Brawijaya tersebut.

Terakhir, acara ditutup dengan penyerahan cendera mata dan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Gus Ahmad Jaisyu Muhammad sebelum sesi pemotretan. – Asni Fakhira
Reporter: Asni Fakhira S.
Fotografer: M. Fadel G.S.
Editor: Qonita Husna Zahida




