
Bondowoso, Media Al-Ishlah – Maulid nabi merupakan peristiwa hari kelahiran nabi Muhammad SAW, yang jatuh pada tangal 12 Rabi’ul awwal tahun hijriyah. Pada momentum ini, para ulama berbeda pendapat mengenai hukum memperingatinya. Akan tetapi, sebagian besar ulama menganjurkan mengisi hari maulid nabi dengan puasa, mengaji, memperbanyak sholawat dan sebagainya asal tidak berlebihan dan menentang syari’at agama dengan tujuan meningkatkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad saw., serta menguji seberapa jauh sunnah dan akhlaq Rasulullah sudah diteladani dan diaplikasikan oleh seluruh hadirin dalam keseharian mereka.
Baca Juga: Tanggap Darurat Gempa Nagekeo, Laziswaf Al-Ishlah Tebar Bantuan Sembako hingga Obat-Obatan
Maka dari itu, pada hari Selasa, 25 Agustus 2026 dalam rangka mengisi hari yang penuh berkah ini, Kulliyatul Muballighaat Al Islamiyyah (KMI) menyelenggarakan kajian keislaman, yang diikuti oleh seluruh santriwati dari kelas 1-6 KMI beserta seluruh jajaran ustadzah. Tepat pada pukul 08.00 WIB di dalam Masjid Kembar Pondok Pesantren Al-Ishlah Putri, para santriwati telah duduk dengan rapi bersama buku tulis masing masing, bersiap menyimak dengan khidmat apa yang akan disampaikan oleh pengisi acara.

Dengan mengusung tema Melestarikan Kebudayaan Islam Di Tengah Gempuran Digitalisasi, Ustadz Fatahillah Arrozi, S,Sos., M.Pd., selaku pembicara menjelaskan bahwa di era digital ini, banyak santriwati terbawa dunia media sosial atau yang sering dikenal dengan istilah FOMO (Fear Of Missing Out) yang berarti rasa takut ketinggalan dengan Fast-Forward (kemajuan cepat) FYP, yang sedang ramai di media sosial.
Padahal, santri tidak perlu mengikuti budaya digital untuk menjadi keren. Santri dapat menjadi keren dengan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim secara konsisten. Karena kewajiban-kewajiban seperti shalat lima waktu berjamaah, menghafal Al-Qur’an, bahkan shalat tahajjud yang sunnah pun, mengandalkan otak untuk berfikir. Sehingga, Dosen Bahasa Inggris tersebut menuturkan bahwa hal-hal tersebut lebih keren dibandingkan digitalisasi yang mengandalkan AI untuk sekedar bertanya hal remeh ataupun scroll tiktok dan reels instagram sampai melupakan waktu dan melalaikan shalat.

“Apapun itu, jika kita menggunakannya dengan bijak maka akan berguna, dan jika disalahgunakan maka akan berbahaya, layaknya pisau. Kendalikan handphone dengan bijak sebelum handphone yang mengendalikan kita,” ujar Ustadz Fatahillah.
Rasulullah adalah trendsetter sejati, seorang influencer no.1 sedunia sepanjang sejarah. Rasulullah tidak membutuhkan centang biru untuk diakui sebagai orang yang berpengaruh. Akan tetapi, pengikut yang beliau miliki tak terhitung jumlahnya hingga akhir zaman dan memiliki pengaruh besar untuk mengubah zaman kejahiliyahan (kebodohan) menjadi zaman yang penuh ilmu, kelembutan dan penghormatan tinggi terutama bagi para wanita.
Baca Juga: MAI Tegas Rampas Aset, Tetap Lindungi Hak Warga
Jika di zaman dahulu Rasulullah harus menggunakan perkamen (pengganti kertas di zaman dahulu yang terbuat dari kulit binatang) untuk menyebarkan dakwah, maka di zaman yang sudah menggunakan handphone ini seorang muslim harus lebih gencar dalam menyampaikan kebaikan dan menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai panutan, “Melalui media sosial, tebarkanlah kebaikan. Jadilah santriwati aesthetic yang berwawasan luas, penghafal Al Qur’an dan yang selalu menjaga iffah dimanapun ia berada.”
Sebagai penutup, pemateri memberikan pesan kepada para santriwati, “Cantik itu rupa biasa, tapi santriwati yang cantik akhlaq plus pintar, jaga jemari di medsos itu baru pilihan idaman Ibu Nyai!”
Reporter: Nasywa Tsania
Fotografer: Intana Lady F.H.
Editor: Rini Aisyah




