
Bondowoso, Media Al-Ishlah — Selasa, (17/02/2026) Tetapkan bulan puasa tanggal 18 Februari, Pondok Pesantrean Al-Ishlah Bondowoso gelar tarawih perdana di Masjid Kembar Al-Ishlah yang diikuti oleh seluruh santriwan dan santriwati, asatidz dan asatidzah, mahasiswa dan mahasiswi, alumni hingga jama’ah.
Momentum tersebut diawali dengan shalat Maghrib berjama’ah, kemudian dilanjukan dengan tausiyah singkat oleh Abi Thoha Yusuf Zakariya, Lc., Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso, tentang perbedaan waktu dimulainya Ramadhan.
Baca Juga: Tingkatkan Wawasan Santri Dengan Cerdas Cermat
Dalam tausiyahnya, ia menguatkan kesepakatan monumental mengenai Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yakni sebuah sistem yang memandang bumi sebagai satu kesatuan matra waktu yang tak terpisahkan.

Tak hanya itu, ia juga menjelaskan mengenai siklus hari yang dimulai dari Garis Tanggal Internasional (International Date Line) di Samudra Pasifik, kemudian bergerak ke arah barat melewati Selandia Baru, Australia, Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika, lalu berakhir kembali di kawasan Pasifik dekat Alaska.
“Jika parameter keterlihatannya hilal terpenuhi dimanapun di muka bumi sebelum siklus hari itu berakhir, meskipun di lokasi ujung barat, seperti Alaska, maka keberadaan hilal tersebut menjadi validasi hukum bagi seluruh penduduk di atas muka bumi ini.”
Baca Juga: Pembukaan Muroja’atul ‘Ammah di Pondok Pesantren Al-Ishlah
Penerapan hilal secara global ini bertujuan untuk menyatukan umat Islam dalam satu kesatuan penetapan waktu ibadah. Hal tersebut berlandaskan pada sabda Rasulullah:
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ يَوْمًا. (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)
“Berpuasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Jika hilal tertutup bagi kalian, maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban tiga puluh hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: Manajemen Waktu yang Baik sebagai Sarana Dakwah!
Diakhir tausiyahnya, ia menekankan untuk memahami dasar ibadah agar tidak ikut-ikutan tanpa mengetahui dalilnya. Selain itu, ia juga mengajak untuk saling menghormati sesama apabila terjadi perbedaan dalam penetapan hilal.
“Ketika ada yang berbeda, atau kita yang berbeda dengan mereka, tugas kita dan sikap kita harus saling menghormati.”
Reporter: Luna Farah Nazilla
Fotografer: M. Adly Fahreza, Intana Lady
Editor: M. Rasyid Ridho




