Bondowoso, Media Al-Ishlah – Sabtu, (27/06/2026) Malam ini di Lapangan Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso terasa berbeda. Di bawah langit yang cerah, dengan lampu sorot yang menyinarinya, dan ratusan pasang mata tertuju pada panggung utama. Tepat pukul 19.30 WIB, salah satu agenda yang paling dinantikan akan dimulai yaitu Drama Arena. Menyuguhkan pagelaran seni akbar yang memadukan semangat, kreativitas, serta pesan-pesan moral yang menyentuh hati. Sehingga menyihir mata para penonton sejak awal acara dimulai hingga akhir acara.

Acara di awali dengan penampilan hadrah yang menggema syahdu, menghadirkan nuansa religius yang menenangkan. Suasana kemudian dipandu oleh pembawa acara yang tampil dengan gaya segar namun tetap santun, serta lantunan ayat suci Al-Qur’an, yang dilanjutkan dengan doa, agar acara berjalan lancar oleh Ketua Departemen Pengasuhan, Ustadz Mohammad Nahrawi, M.Pd.
Baca Juga : Api Unggun Membakar Semangat Peserta Perkemahan
Acara berlanjut dengan penampilan paduan suara Al-Ishlah yang membawakan lagu Hymne Oh pondokku serta Hymne Al-Ishlah, diteruskan dengan sambutan dari Ketua Panitia, Ketua Pengasuhan, serta Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlah Abi K.H. Thoha Yusuf Dzakariya, Lc. Ia menyampaikan “Hidup itu bersinar, maksudnya adalah santri kelas 4 KMI mampu menyinari yang ada di sekitar. Drama Arena tidak hanya sekedar hiburan, tetapi didalamnya terdapat banyak nasehat, pesan, juga hikmah yang akan kita dapatkan.”

Setelah itu, penonton sangat terpukau oleh penampilan Grand Opening yang menggambarkan kondisi Indonesia saat ini. dipadukan dengan kreativitas para santri melalui prolog video sinematik yang sangat apik.
Baca Juga : Melihat Hasil Yang Telah Diperjuangkan!
Acara semakin meriah dengan berbagai penampilan yang disajikan dengan sangat baik dan penuh semangat. Seperti colour guard, bujang ganong, reog, tari nusantara, disambung dengan campursari yang mengajak kita bernostalgia dalam nuansa budaya Jawa. Pantomim dan jabba wokkez sebagai tari modern, akrobatik dan tapak suci, puisi, serta nasyid yang tak kalah memukau para penonton.

Namun, yang paling menarik perhatian adalah penampilan drama. Dibawakan langsung dengan penuh totalitas oleh santri kelas 4 KMI. Drama kali ini menceritakan tentang perjalanan dua alumni pesantren yang harus menghadapi dan merasakan kehidupan di luar, satu sangat pintar dalam akademik, sementara yang lain biasa-biasa saja, tapi tetap menjaga yang namanya kejujuran.
Baca Juga : Al-Qur’an Akan Menjadi Syafa’at Pada Akhirat Kelak
Pada akhirnya, drama ini menggambarkan pentingnya menjaga iman, ilmu, dan amal ketika hidup di tengah masyarakat. Kehidupan di luar pesantren sangat berbeda dengan kehidupan di dalam pesantren. Meskipun dalam perjalanan hidupnya ia menghadapi berbagai cobaan, ia tetap mampu kembali ke jalan yang benar. Sebuah pesan yang kuat bahwa menyerah bukan pilihan, tapi terus berjuang adalah jalan yang terbaik.

Acara malam itu ditutup dengan pemberian cinderamata yang special kepada Bapak Pimpinan Pondok. Para santri kelas 4 KMI secara simbolis menyerahkan figura yang bertuliskan kaligrafi surat Al-Ikhlash di dalamnya. Dilanjutkan dengan sesi foto bersama seluruh panitia, juga wali santri.
Reporter: Insan Kamil Adzikri
Fotografer: Yardan Rafha, Fadel Galung
Editor: M. Rasyid Ridho




