
Bondowoso, Media Al-Ishlah – Demi mengasah keberanian, melatih kemampuan berbicara serta mempersiapkan generasi da’i yang kompeten dalam menyampaikan dakwah, Panitia Program Niha’ie menyelenggarakan program tahunan berupa Ujian Pidato. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh santri akhir Kulliyatul Muballighot Al-Islamiyah (KMI) Putri tahun ajaran 2026–2027 M., dengan berbekal pengetahuan yang telah diperoleh melalui Pembekalan Pidato sebelumnya.
Baca Juga: Ujian Bukan Sekadar Mengukur Ilmu, Tetapi Menguji Kejujuran dan Kesungguhan
Proses penyusunan pidato berlangsung pada 4–6 September 2026 dengan mengangkat tema akhlaq. Para santriwati pun tampak antusias menyusun naskah pidato dengan menggunakan bahasa yang telah ditentukan bagi masing-masing santri, yakni bahasa Arab dan Inggris.
Untuk memastikan ketepatan isi dan penggunaan bahasa, naskah pidato kemudian dikumpulkan dan dikoreksi oleh jajaran musyrif/ah dari masing-masing kelompok. Di samping proses revisi naskah, para santri juga mulai menghafalkan dan berlatih menyampaikan pidato sebagai persiapan menghadapi ujian yang berlangsung pada 12–21 September 2026.
Baca Juga: Tingkatkan Literasi dan Numerasi, SMP Plus Al-Ishlah Menjadi Tuan Rumah Bimtek
Selama pelaksanaan Ujian Pidato, beragam pengalaman turut mewarnai perjalanan para santriwati. Rasa gugup dan takut menjadi hal yang tidak terhindarkan ketika mereka harus berdiri dan berbicara di hadapan banyak orang. Sebagian masih diliputi kebingungan dalam menentukan apa yang hendak disampaikan, sementara sebagian lainnya merasa kesulitan dalam merangkai kata dan menggunakan bahasa yang tepat. Bahkan, beberapa santriwati tidak kuasa menahan tangis karena rasa gugup yang begitu besar.

Namun, rasa takut bukanlah alasan untuk berhenti melangkah. Dengan semangat dan keberanian untuk mencoba, para santriwati tetap berusaha menyelesaikan ujian hingga akhir. Seiring proses yang mereka jalani, rasa gugup dan kebingungan perlahan berubah menjadi keberanian dan kepercayaan diri. Dari pengalaman tersebut, setiap santriwati Niha’ie tersebut belajar bahwa keberanian untuk mencoba dan kekuatan mental merupakan langkah awal dalam menghadapi setiap tantangan.
“Pasti ada rasa takut yang besar di awal. Namun, setelah melewati proses pembuatan, revisi, hingga maju ke depan, ternyata semuanya berjalan dengan baik. Jika kita mau terus berusaha, tidak akan ada yang menghalangi kita. Semoga melalui pidato ini, kelak kami dapat menerapkan apa yang telah kami pelajari dan memanfaatkannya di lingkungan masyarakat,” ujar Jofina Azka, salah satu santriwati asal Malang.
Baca Juga: Musyawarah Kerja: Membangun Semangat Baru Melalui Inovasi Program Kerja Bersama
Ketua Panitia Program Niha’ie, Ustadzah Salsabila pun turut menyemangati santriwati Niha’ie dalam menghadapi Ujian Pidato ini, “Grogi itu wajar, bingung itu biasa. Tapi keberanian untuk mencoba adalah langkah awal untuk menjadi lebih baik.”
Ujian ini tidak berakhir setelah para santriwati maju dan menyampaikan pidatonya. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi mereka dalam menyampaikan ilmu dan berdakwah di tengah masyarakat serta menjadi sarana untuk melatih keberanian, membangun kepercayaan diri dan mempersiapkan para santriwati menjadi muballighot yang bermanfaat bagi orang lain.
Reporter: Nasywa Tsania
Fotografer: Faranisa Nur Aulia
Editor: Rini Aisyah




